Just Published!

Image

Available at a bookstore near you! :)

Sinopsis Dear Friend With Love

Karin

Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justu semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan beribu-ribu wanita lain di luar sana. Beribu-ribu wanita lain yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang gak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku, sahabatmu tololmu!

Rama

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, gak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue sedang kebetulan single. Paket komplit!

Catching Up

Karin

Loving someone who doesn’t love you back is such a hell on earth. Especially when you can’t even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe you need that friendship for the sake of your love?

Whatever.

All you can do is waiting him/her to love you back.

All I can do is waiting him to love me back.

Dan untuk perempuan berumur 25 tahun lebih dua bulan seperti aku, hal ini tentu bukan perkara mudah. No, bukan karena aku gak sabar menunggu dia bisa cinta sama aku, tapi karena aku tinggal di Indonesia Raya yang penuh dengan tante-tante rese yang hobi menanyakan “kapan nikah” dan berujung dengan heboh menjodohkanku sana sini saat tahu aku single. Mereka selalu bilang, “jangan terlalu pilih-pilih!” Helloooo, beli dondong saja milih, apalagi cari suami. Duh.

Lagipula kalau aku memang mau, aku yakin aku bisa mencari pasangan sendiri, jadi seharusnya para tante itu gak perlu repot-repot mencarikan jodoh untukku. Buktinya sekarang. Saat aku keluar dari mobil, sentuhan make up tipis di wajahku sudah cukup membuat pria-pria yang duduk di smoking area starbucks TIS Square memandangku dengan wajah mirip kucing lihat ikan asin. Norak.

AC dingin starbucks menerpa wajahku ketika aku membuka pintu masuk. Aroma kopi yang semerbak langsung memanjakan hidungku. Pandanganku tertuju ke sudut ruangan dimana ada seorang pria tampak serius di depan macbook pro-nya.  Aku mendeketi pria itu sampai alisnya yang tebal, matanya yang teduh, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang seksi kini tampak jelas.

“Tuyul!” seru pria itu ketika melihatku sudah berdiri di hadapannya.

Perkenalkan, my hunny bunny sugar pie, Rama. Rama Adrian, lengkapnya. My lovely love.

But sadly, I’m not his love. I’m his forever best friend!

Rama

Seperti biasa, Karin muncul dengan bajunya yang aneh-aneh. Dia bilang, sebagai pemilik sebuah clothing line terkemuka di Jakarta, dia wajib tampil gaya dengan pakaian aneh-aneh supaya terlihat fashionable. Yeah, I have to admit sih, si Karin ini pakai baju seajaib apapun pasti tetap terlihat modis. Gue curiga karung beras pun kalau dia yang pakai akan terlihat keren.

“Apa kabar lo? Sibuk banget sih kayaknya. BBM gue sampe jarang dibales gitu,”  Karin langsung merepet ketika duduk di sofa depan gue. Yeah, kalau gak cecuitan –is this even a word?- kayak burung, bukan Karin namanya.

“Iya nih, stasiun TV gue lagi banyak project baru, jadi sibuk gini gue.”

Kepala Karin mengangguk-angguk seperti boneka per yang biasa dipasang di mobil. Gue yakin sih dia gak tertarik untuk mendengar lebih detail. Nonton TV saja dia jarang banget. Baginya iPad yang selalu terkoneksi dengan internet is more than enuff. She’s such a geek.

“Eh, gue ada cerita!” kata gue setelah menyeruput double espresso gue yang sudah agak dingin karena kelamaan nunggu dia.

“Apa?”

“Gue lagi deket sama cewe!”

As always, Karin langsung pasang muka males setiap gue cerita tentang cewe, “Siapa lagi korban lo kali ini?” tanyanya.

“Gigi lo korban! Another wanita beruntung tau,” kata gue yang pastinya langsung disambut cibiran Karin, “Dia model. Gue ketemu di kantor.”

“Model lagi? Halah, paling 3 bulan putus lagi.”

“Enggak. Kali ini beda. Dia baik banget!”

Karin hanya memonyongkan bibirnya sambil memutar matanya. I know, dia pasti sudah bosan mendengar cerita gue tentang perempuan A, perempuan B, perempuan C, dan seterusnya. Untung masih perempuan semuanya.

“Namanya Astrida. Cantik banget,” Lanjut gue.

“Astrida Irsyad?”

“Iya! Lo kenal? Temen lo? Kok lo gak pernah cerita punya temen cakep gitu?”

Karin menggelengkan kepalanya, “cuma pernah ketemu waktu gue nganter wardrobe ke fame magz. Waktu itu dia modelnya.”

“Oh. Cantik banget ya si cicit!”

“Cicit? Panggilan kesayangan baru? Kayak tikus deh. Cicit cicit cicit.” Karin membuat mimik dongo sambil memutar kepalanya ke kanan dan kiri dengan mata melihat ke lantai seolah sedang memanggil tikus. Aneh banget memang sahabat gue satu ini.

Anyway, memang penting buat gue untuk selalu punya panggilan special ke cewe yang sedang jadi target gue. Alasannya simple: To be remembered, you have to do something different than others. Tapi entah kenapa Karin gak pernah bisa mengerti teori brilian gue yang satu ini.

“Gila, gue mau mimisan tiap liat dia saking cantiknya,” kata gue tanpa mempedulikan Karin yang masih sibuk cari tikus di lantai.

“Ah, lo sih kambing dibedakin juga cantik!” kata Karin asal.

“Tuyul!” pengen gue lempar asbak si Karin ini.

Tanpa rasa bersalah si tuyul satu ini malah asik cekikikan.  Dia tahu gak sih gue lagi curhat serius?

Eh, sepertinya ada yang beda dengan tawanya hari ini. Astaga, dia baru pasang kawat gigi. Well, dengan berat hati gue harus akui si sinting ini wajahnya jadi tambah imut dengan kawat gigi warna warni itu. Pasti setelah ini akan tambah banyak cowo yang antri jadi pacarnya. Should I take the number as well? Cih. Gak sudi.

Tapi dari sekian banyak cowo yang rela terjun ke jurang untuk jadi pacarnya, gue heran kenapa gak ada satupun yang dipilih. Setiap kali gue tanya tentang hal ini, jawabannya selalu sama: mau nunggu dudanya Prince William. Mimpi aja lo, Karina Larasati.

Atau jangan-jangan dia  sebetulnya lesbi? Kenapa baru sekarang gue kepikiran kemungkinan ini ya?

Karin

Again and again. Aku cuma jadi tempat sampahnya cerita tentang para wanitanya yang gonta-ganti itu. Dan dia antara sekian banyak perempuan yang pernah dia jadikan pacar, why is it never me?

And look at me now. Sitting here, getting my heart broken, but still giving him my bestest smile.

Karin

What's worse than not being loved by the one you love? Satu, having no courage to let him know how you feel. Dua, knowing that he keeps falling for other girls. Tiga, dia anggap kamu sahabat terbaiknya. Aku harus tunggu kamu sampai kapan, Ram?

Rama

Satu di antara ribuan alasan kenapa gue nyaman sahabatan dengan Karin adalah ketidakwarasannya bikin gue bisa tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Oh satu lagi, dia cantik banget, man. Gak malu-maluin lah buat diajak nemenin kondangan.

-

Katanya, a guy and a girl can't be just friends. Benarkah? How about Karin and Rama? Blog ini adalah cerita berseri tentang persahabatan mereka. Cerita akan di update setiap hari rabu. Hope you enjoy it!

The Series

Chapter 1
Catching Up

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Contact Me

nurilla.ri[at]gmail[dot]com
@nyiell

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers

%d bloggers like this: